Image Alt

Tentang Bhumi

Kami

Ini adalah sebuah cerita kecil tentang cinta.
Cinta pada sebuah tempat di atas tanah Nusantara. Sebuah galeri kecil yang merekam kekayaan dan keindahaan alam yang telah Ia ciptakan di atas permukaan tempat ini.

Mungkin kamu bertanya-tanya guna keberadaanku di hadapanmu saat ini. Jika kamu ingin menikmati rangkaian kata dan rupa di dalamku, maka penting rasanya bagi kita untuk sejenak berkenalan.
Aku adalah pijakan yang mewakili keberadaan manusia-manusia pemrakarsa untuk membuatmu merasa sedikit lebih dekat dengan sebuah keinginan untuk berkunjung secara langsung ataupun hanya menempatkan rasa di tempat yang akan aku perkenalkan. Bukan untuk mengeksploitasi, tetapi untuk menggali.

Orang bilang mencintai dengan alasan tidak dapat disebut dengan cinta. Namun, cintaku pada apa yang aku bawa ini memiliki sebuah alasan. Mungkin saja ini bukan cinta, tetapi rasa yang kulemparkan lebih jauh dari itu.
Rasa ingin melindungi, rasa untuk berbagi. Untukmu lah aku menarik diriku kesini.
Hamparan luas Savana bagai tanpa jarak, dan aku yang menari dengan tiupan angin halus di sela jemari. Seperti cinta yang tak mengenal waktu, harumnya rerumputan siang, dan bagaimana semesta melukis langit senja menguak rindu di bawah bintang malam. Waktu yang tepat untuk menyaksikan lautan yang menggelar pentas orkestra gemuruh ombaknya.

Belum cukup jagat alam raya memanjakanmu, percayalah, sejuta pasang mata yang beriring lengkungan senyum akan memeriahkan perasaanmu di sana.
Kau tidak pernah merasa berjalan sendiri di atasnya.
Aku akan mencukupkan cerita kecilku di halaman ini dan mempersilahkan para prakarsa untuk melanjutkannya.
Aku harap kamu membuka hatimu pada apa yang akan kamu baca. Aku tidak akan memaksakanmu sebuah cinta, namun harapanku darimu ialah untuk memberikan rasa pada apa yang aku bawa.

Aku adalah Bhumi Sumba.
Pijakan kecil di atas tanah Timur Indonesia.
Pengantar langkahmu menuju pintu-pintu rahasia.
Selamat melangkah di atas pijakan yang sama, maupun berbeda.

Bhumi Sumba

Perjalanan

 

Didiet Maulana atau yang lebih akrab dipanggil Mas Didiet adalah seorang penggiat seni kriya yang sudah mengabdikan dirinya pada kebudayaan Indonesia lebih dari satu dekade. Didiet Maulana merupakan Creative Director sebuah fashion brand bernama IKAT Indonesia.

Perjalanan dalam mencari gagasan untuk dituangkan dalam sehelai kain, membawa Mas Didiet menjejakan kaki di tanah Sumba.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sebuah gagasan dari seorang Didiet Maulana untuk mengangkat Sumba, tidak hanya dari sisi keindahan alamnya, namun juga pesona kebudayaan dan sosial yang menjadi kearifan lokal di Timur Indonesia.

Ide yang tercipta dan dieksekusi melalui sebuah platform bernama KROWD. Juli 2017, di Menara KIBAR, Didiet Maulana bertemu anak-anak muda yang memiliki niat yang luhur, untuk memajukan Indonesia yang dimulai dari tanah Sumba.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Di awali oleh kain tenun IKAT, perhatiannya terhadap Sumba, tidak terhenti pada kebudayaan tekstilnya

saja, tetapi juga mengenai keindahan alam, kearifan lokal, masyarakat. Dan lebih dari itu, nilai yang diyakini oleh Mas Didiet untuk memberi kebermanfaatan yang lebih luas bagi tanah dan masyarakat Sumba, maka tergagas dan lahirlah Bhumi Sumba.

Warga Bhumi

The Director - Founder, Initiator

The Wordsmiths - Copywriter

Code Magician - Developer

The Mind Mischief - Brand Identity Designer

Timeline Guardian - Project Manager

Mind Traveller - Researcher

Digital Chef - UI/UX Designer

Culture Shifu - Copywriter

The Wordsmiths - Copywriter

Digital Chef - UI/UX Designer

Vector Bender - Graphic Designer

The Wordsmiths - Copywriter

Traffic Keeper - Social Media Strategy

Kontributor Bhumi

Public Figure

Travel Blogger

Camera Person Metro TV

Travel Enthusiast

Nikon Indonesia official photographer